Sudahkah Menjadi Guru Profesional?

DEWASA ini ada keinginan dalam masyarakat untuk menuntut profesionalisme dalam bekerja. Walaupun istilah ini sering digunakan serampangan tanpa jelas konsepnya, namun hal tersebut menunjukkan refleksi dari adanya tuntutan yang semakin besar dalam masyarakat akan proses dan hasil kerja yang bermutu, penuh tanggungjawab, bukan sekedar asal dilaksanakan. Secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus telah dipersiapkan untuk itu, bukan pekerjaan yang dilakukan oleh sembarang orang.

Secara leksikal, perkataan profesi itu ternyata mengandung berbagai makna dan pengertian. Pertama, profesi itu menunjukkan dan mengungkapkan suatu kepercayaan (to profess mean to trust), bahkan suatu keyakinan (to belief in)atas sesuatu kebenaran (ajaran agama) atau kredibilitas seseorang (Horny, 1962).Webster’s New World Dictionary menunjukkan lebih lanjut bahwa profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi (kepada pengembannya) dalam liberal art atau science, dan biasanya meliputi pekerjaan mental dan bukan pekerjaan manual, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang, dan sebagainya; terutama kedokteran, hukum, dan tehnologi.

Pada umumnya masyarakat awam memaknai kata profesionalisme bukan hanya digunakan untuk pekerjaan yang telah diakui sebagai suatu profesi, melainkan pada hampir setiap pekerjaan. Adapun pada profesi guru memiliki kriteria atau tolok ukur keprofesionalan guru. Sehinggga kriteria ini akan berfungsi ganda yaitu :

Mengukur sejuah mana guru-guru di Indonesia telah memenuhi kriteria profesional.
Menjadikan titik tujuan yang akan mengarahkan segala upaya menuju profesionalisasi guru.

Khusus pada jabatan guru, sebenarnya sudah ada yang mencoba menyusun kriterianya, seperti yang dilakukan National Education Association (NEA) yang menyarankan sebagai berikut :

  • Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual,
  • Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus,
  • Jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama,
  • Jabatan yang memerlukan “latihan dalam jabatan” yang berkesinambungan,
  • Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen,
  • Jabatan yang menentukan baku (standar) sendiri,
  • Jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi,
  • Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin kuat.

Membicarakan tentang guru dan dunia keguruan, ibarat mengurut benang kusut : dari mana dimulai dan pada titik mana berakhir? Jawaban atas pertanyaan tersebut juga tergantung sudut pandang mana yang digunakan dalam melihat guru.  Jika memandang dari sudut keprofesionalan, kita dihadapkan pada tidak mudahnya mendefinisikan secara pasti mengenai apa, siapa dan bagaimana profesi keguruan. Agar mengajar diakui dan dihargai profesi, kita harus lebih dahulu mengetahui, seperti yang dikatakan Kathleen Devaney dan Gary Sykes, bahwa hak itu harus didapatkan “mengembangkan budaya kerja yang profesional harus dilakukan melalui kerja sama dengan pekerja itu sendiri yaitu para guru. Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu, relevansi, dan efesiensi pendidikan, maka pengembangan profesionalisasi guru merupakan suatu kebutuhan. Benar bahwa mutu pendidikan bukan hanya ditentukan oleh guru, melainkan oleh mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, dan faktor-faktor ekternal lainnya. Akan tetapi seberapa banyak siswa mengalami kemajuan dalam belajarnya, banyak tergantung kepada kepiawaian guru dalam membelajarkan siswa.

Apa yang dimaksud dengan guru profesional paling tidak mempunyai ciri-ciri berikut:

Guru yang menyadari perannya sebagai “Guru”
Sebagian besar guru masa kini seringkali melupakan bahwa perannya adalah sebagai “Guru”. Yang mereka sadari adalah “Guru” hanyalah sekedar profesi penghasil uang, profesi yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Peran tersebut seharusnya dijalankan dengan baik. Guru seharusnya menyadari bahwa peran seorang “Guru” adalah menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Guru yang menguasai bahan ajar
Penguasaan bahan ajar sangat dibutuhkan agar proses pendidikan berjalan dengan lancar. Apabila guru tidak menguasai bahan ajar tersebut, maka proses pembelajaran pun akan terhambat.

Guru yang dapat menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan
Jika seorang guru dapat menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan, otomatis para murid akan lebih berkonsentrasi pada proses pembelajaran mereka. Pelajaran yang sukar pun akan lebih mudah terserap dan dimengerti oleh otak mereka. Coba saja bandingkan dengan guru yang menciptakan suasana pembelajaran tidak nyaman dan terkesan menyeramkan, suasana yang biasanya diciptakan oleh para guru yang disebut killer, pastilah murid akan lebih sukar berkonsentrasi dalam menyerap materi pembelajaran.

Guru yang disiplin
Guru adalah contoh bagi murid-muridnya. Maka dari itu kedisiplinan seorang guru pun akan ditiru. Bila gurunya saja tidak dapat menunjukkan sikap disiplin, bagaimana bisa guru mengajarkan kediplinan pada para murid?
Contoh-contoh kecil yang kadang terjadi di lingkungan sekolah adalah seorang guru yang saat itu seharusnya mengajar di kelas tertentu, namun entah mengapa ia malah tertangkap basah oleh muridnya, bukannya mengajar, guru itu malah sedang santai di kantin, perpustakaan, atau tempat-tempat lain yang tidak terduga. Tanpa mereka sadari hal sepele itu menjelma menjadi contoh buruk yang kemudian ditiru oleh beberapa murid, misalnya murid menjadi suka membolos. Mereka berpikir, kalau guru saja boleh membolos, mengapa muridnya tidak?

Guru yang memberikan motivasi positif pada murid
Motivasi positif pastinya akan membuat murid lebih bersemangat dalam proses pembelajarannya. Namun, di masa kini jarang sekali motivasi positif itu terlontar dari mulut para guru, mereka justru memberikan kata-kata negatif yang akhirnya menghancurkan semangat belajar para murid. hal itu lagi-lagi dilakukan tanpa sadar apa dampak negatifnya.
Contoh dari kata-kata negatif itu adalah seorang guru yang dengan mudahnya meremehkan seorang murid hanya karena murid tersebut mendapatkan nilai jelek dalam ulangannya, guru itu mencaci maki dan mengatakan bahwa murid itu tidak akan bisa menguasai materi pelajarannya. Tanpa sadar hal seperti ini menjatuhkan semangat murid untuk belajar. Yang tercetak dalam otak murid adalah “Aku tidak bisa dan aku tidak akan bisa”.
Sebuah kata-kata tidak boleh dianggap sebagai hal remeh dan sepele. Kata-kata dapat menjadi motivasi ataupun tombak maut bagi seseorang. Kata-kata seperti “Kamu pasti bisa” akan menjadi motivasi positif bagi para murid.

Guru yang memiliki motivasi positif untuk diri sendiri
Tak hanya memberikan motivasi positif untuk para murid, guru profesional juga harus memiliki motivasi positif untuk diri mereka sendiri. Mereka harus menyadari bahwa profesi mereka sebagai guru adalah untuk kemajuan bangsa, menciptakan generasi muda berbakat dan berkualitas. Profesi mereka tidak semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, tetapi juga untuk memberikan dan menambah guna bagi murid-muridnya.

Guru yang memberikan kesempatan pada murid untuk berargumentasi, saling bertukar pikiran dan pendapat
Seringkali beberapa guru menganggap bahwa dirinya adalah yang paling pintar dan paling mengerti. Hingga terkadang mereka tidak mau menerima masukan dari murid. Mereka selalu menganggap bahwa dirinya adalah yang paling benar dan murid harus setuju dengan mereka. Sikap seperti ini tentu saja akan membuat murid tidak bisa berpikir secara mandiri.
Lain halnya dengan guru yang dengan senang hati memberikan kesempatan pada murid untuk berargumentasi, saling bertukar pikiran dan pendapat. Hal ini akan menjadikan para murid dapat berpikir secara mandiri dan dapat menciptakan pendapat-pendapat baru yang mungkin saja berguna untuk masa depan bangsa ini.

Guru yang tidak mengenal istilah “Anak Emas” atau “Murid kesayangan”
Sebagian besar guru pasti mengenal hal ini dan terkadang mereka memperlakukan anak emas atau murid kesayangannya secara spesial atau bahkan berlebihan. Seorang guru profesional seharusnya dapat memandang para muridnya secara sama rata, tidak ada yang dianggap rendah dan tidak ada yang dianggap terlalu tinggi.
Untuk anak yang dianggap sebagai murid kesayangan ini mungkin saja akan lebih bersemangat dalam mempelajari materi yang guru tersebut ajarkan, namun bagaimana dengan murid-murid lainnya? Murid-murid lainnya akan merasa iri dengan murid yang diperlakukan secara spesial tersebut. Mereka akan menganggap bahwa gurunya hanya mempedulikan murid spesial itu dan tidak mempedulikan mereka. Dan hal ini mengurangi nilai profesional seorang guru.

Guru yang tidak mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan
Urusan pribadi tidak boleh dicampurkan dengan pekerjaan. Namun, beberapa guru biasanya membawa emosi yang mereka dapatkan dari luar menuju ke sekolah. Seringkali para murid menjadi pelampiasan atas masalah yang sedang dihadapinya. Mereka marah-marah tidak jelas dan membuat jam pelajaran para murid menjadi terpotong. Hal ini jelas sangat tidak baik dan merugikan murid. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dan lebih memperdalam pengetahuan akhirnya terbuang sia-sia.

Guru yang selalu mendukung para muridnya
Dukungan dari seorang guru adalah salah satu hal yang diharapkan oleh para murid. Dengan adanya dukungan dari seorang guru, para murid akan lebih termotivasi untuk mencapai hal baik yang mereka impikan.

Guru yang selalu dirindukan dan diingat oleh para murid
Seorang guru profesional pasti akan selalu dirindukan dan diingat oleh para muridnya. Walaupun puluhan tahun berlalu, guru-guru profesional ini tak akan pernah terlupakan jasa-jasanya.
Intinya, guru profesional adalah mereka yang selalu “melakukan hal-hal positif” yang akan menguntungkan bagi para murid dan “menghindari hal-hal negatif” yang akan merugikan para muridnya.

Jika melihat dari yang dimaksud di atas sebagai mana guru dikatakan professional, lalu pertanyaannya adalah sudah profesionalkah kita sebagai guru?, ataukah kita menuju ke arah sana atau bahkan kita belum memahami makna dari profesi yang kita emban yang mengamanatkan kita untuk bertindak professional. Tentu kita tahu Undang Undang Guru dan Dosen sebagai landasan diakuinya hak-hak profesional hingga pada akhirnya akibat dari undang-undang tersebut didapatkannya tunjangan profesi atau yang lebih dikenal dengan tunjangan sertifikasi guru. Tentu ini membawa angin segar bagi para pendidik di se-antero negeri, yang mengubah wajah guru yang semakin menuju kata sejahtera dari umar bakri menjadi guru yang berdasi. Dimana dulu para guru sering di ninabobokan dengan istilah pahlawan tanpa tanda jasa. Berkaca dari masa lalu tentu kita sepakat bagaimana para guru sebagai pengajar dan pendidik anak negeri harus terus berupaya meningkatkan kompetensi keguruannya agar layak dikatakan profesional.

Ketika guru  tersadar akan betapa berat beban yang disandangnya, apakah bisa sang guru tetap melaju dengan kecepatan konstan, apa bisa sang guru hanya berkeluh kesah  ketika di setiap harinya dituntut untuk mencurahkan sedikit waktunya untuk  membuat sebuah rencana pembelajaran yang efektif bagi peserta didiknya, apa bisa meluangkan waktunya untuk berpikir ekstra tentang metode yang akan dipakai untuk memenuhi standar kompetisi yang ingin dicapai. Dengan kesadaran tentang tanggung jawab profesi itu apakah mungkin si Guru akan tetap berjibaku dengan obrolan-obrolan pasar seputar gosip selebriti, gadget, fesyen, gaya hidup yang tak pernah putus tanpa mampu mengkontekskannya dalam pendidikan dan pendidikan moral. Hal ini untuk mencegah para guru terjebak pada situasi keterasingan dari profesinya.

Ketika guru melulu berbicara tentang masalah Finansial belaka, hanya akan membuat sang guru tercerabut dari identitas keguruannya. Ketika guru terbuai dengan persoalan finansial maka dengan sendirinya guru tersebut sedang membukakan pintu keterasingan bagi profesinya. Dimulai dengan perasaan bosan dan perasaan bahwa menjadi guru hanya sebuah  pekerjaan rutin yang tidak terlalu membutuhkan pemikiran dan perlakuan lebih. Seorang guru idealnya memiliki waktu yang sengaja diluangkan untuk berkontemplasi. Berkontemplasi tentang bagaimana proses Kegiatan Belajar Mengajarnya (KBM) hari ini, berkontemplasi tentang bagaimana perkembangan si Budi, Si Najwa, Si Aziz, dan peserta didik lainnya, berkontemplasi tentang apakah matanya sudah cukup berbinar ketika menatap mata peserta didik, berkontemplasi tentang apa dia sudah mampu memberikan energi positif kepada peserta didik dengan sentuhannya, berkontemplasi tentang apa dia sudah mampu mengidentifikasi bahwa si Ani adalah istimewa dengan kemampuan otak kirinya, Si Faruq istimewa dengan kemampuan Agitasinya, Si Abdul istimewa dengan kemampuan fisiknya, dan apa yang bisa guru lakukan untuk mengembangkan benih-benih para siswa yang tengah dia genggam sehingga benih itu  bukan hanya mampu tumbuh dan berbunga tapi juga mampu berbuah lebat serta bermanfaat bagi lingkungannya. Semoga.

(source:  dari berbagai sumber)

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *