Chemistry and Love? Is Love a Chemical reaction?

Chemistry…hmm yang terpikir ketika mendengar kata ini?

Chemistry selain berarti kimia dalam bahasa Indonesia berarti kimia, juga bisa diartikan sebagai kedekatan yang menghasilkan kecocokan dalam suatu hubungan. Pernah mendengarnya bukan? Si cowok A kenalan dan ngobrol dengan cewek B, kemudian si A berkata kepada temannya, “wah gue nyambung banget sama dia, kayanya kami punya chemistry.”

Lalu bagaimana dengan Love? Ketika mengetik kata kunci “Love is” dalam kolom pencarian google, hasilnya banyak sekali quotes, kata bijak, puisi, dan sebagainya, padahal niatnya ingin dapat arti dari Love sendiri, biar bisa dicopas ke tulisan ini. Tapi saya yakin, reader sudah punya dan ngerti apa itu Love, dengan caranya sendiri. Sudah-sudah, yang jomblo tidak perlu baper kan masih disayang emak dan bapak 😀

Nah, pernahkan anda sekalian terpikir kenapa sih cinta itu ada? Bukan membahas konten “Cintaku ada karena dirimu” bukan bukannnnnn, maksud saya misalkan flu itu muncul karena virus atau pelangi muncul karena pembiasan sinar matahari pada air hujan, nah perasaan yang disebut cinta ini muncul karena apa? Mungkinkah reaksi kimia terlibat dalam pembentukan perasaan cinta? Seperti perasaan bahagia yang muncul karena produksi hormon endorphin?

Ternyata orang yang kita anggap menarik dan membuat kita jatuh cinta sebenarnya bukan tergantung pada hati kita, tetapi pada penglihatan dan aroma (tubuh) – yang menghasilkan reaksi kimia pada otak kita. Para peneliti mempelajari tentang pengaruh unsur-unsur kimia ini saat kita jatuh cinta dan ketika kita berada dalam hubungan jangka panjang. Tanda-tanda yang muncul saat kita jatuh cinta antara lain jantung berdebar, kulit memerah dan telapak tangan berkeringat. Para peneliti mengatakan ini disebabkan oleh norepinefrin, dopamin dan phenylethylamine yang dilepaskan tubuh kita. Dopamin ini dianggap sebagai “bahan kimia kebahagiaan” yang menghasilkan perasaan yang penuh kenikmatan. Norepinephrine mirip dengan adrenalin dan menyebabkan rasa berdebar. Menurut Helen Fisher, seorang antropolog dan peneliti tentang cinta dari Rutgers University, kedua bahan kimia ini menghasilkan kegembiraan, energi yang kuat, sulit tidur, perasaan merindu, kehilangan nafsu makan dan perhatian terfokus. Dia juga mengatakan, “Tubuh manusia melepaskan bahan kimia cinta hanya jika kondisi tertentu terpenuhi dan… pria lebih siap untuk memproduksinya dibandingkan wanita, karena sifat mereka yang lebih visual.

Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (functional Magnetic Resonance Imaging / fMRI) untuk melihat otak seseorang ketika ia melihat foto dari orang yang mereka cintai. Menurut Helen Fisher, hasil scan otak menunjukkan bahwa sang obyek penelitian sedang mengalami tahap ketertarikan yang dijelaskan sebagai tahap dimana seseorang merasa tergila-gila dan tidak bisa memikirkan hal lain selain orang yang dia cintai. Hasil scan menunjukkan peningkatan aliran darah di daerah otak dengan konsentrasi tinggi untuk reseptor dopamin – yang juga terkait dengan perasaan euforia dan kecanduan. Tingginya kadar dopamin juga terkait dengan norepinefrin, yang meningkatkan perhatian, memori jangka pendek, hiperaktif, sulit tidur dan perilaku-perilaku yang berorientasi pada tujuan (dalam hal ini tujuannya tentu saja “jadian dengan orang yang dicintai”). Dengan kata lain, orang yang sedang jatuh cinta seringkali hanya fokus pada hubungan cintanya dan melupakan hal lainnya.

Penjelasan lain tentang fokus yang intens ini juga dikemukakan oleh para peneliti di University College London. Mereka menemukan bahwa orang yang sedang jatuh cinta memiliki tingkat serotonin yang lebih rendah dan juga bahwa jaringan saraf yang terkait dengan cara kita menilai orang lain dalam keadaan tertekan. Tingkat serotonin yang lebih rendah juga dimiliki oleh orang dengan gangguan obsesif-kompulsif. Hal ini bisa menjelaskan mengapa orang yang sedang jatuh cinta menjadi “terobsesi” tentang orang yang dicintainya.

Waduhh ternyata seperti itu. Terjawab sudah kenapa perasaan cinta itu seperti itu. Sssut yang jomblo tenang, jodoh sudah diatur di tangan Tuhan, tapi kalo memang tidak menemukan ya berarti anda ketinggalan saat pembagian jodoh. No, just kidding.

 

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Comments

comments

3 thoughts on “Chemistry and Love? Is Love a Chemical reaction?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *